Repository navigation
Expand file tree
/
Copy pathindex.html
More file actions
177 lines (165 loc) · 15.5 KB
/
Copy pathindex.html
File metadata and controls
177 lines (165 loc) · 15.5 KB
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
154
155
156
157
158
159
160
161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174
175
176
177
<!DOCTYPE html>
<html lang="en">
<head>
<meta charset="UTF-8">
<meta name="viewport" content="width=device-width, initial-scale=1.0">
<title>Dicoding Academy Final Project</title>
<link rel="icon" type="image/x-icon" href="assets/self.png">
<!-- My Own Styles -->
<link rel="stylesheet" href="style.css">
<!-- Google Fonts: Josefin Sans -->
<link rel="preconnect" href="https://fonts.googleapis.com">
<link rel="preconnect" href="https://fonts.gstatic.com" crossorigin>
<link href="https://fonts.googleapis.com/css2?family=Josefin+Sans:ital,wght@0,100..700;1,100..700&display=swap" rel="stylesheet">
<!-- My Script -->
<script src="script.js"></script>
</head>
<body>
<header>
<div id="header-wrapper">
<div class="header-line"></div>
<img class="header-hero" src="assets/hero.jpg" alt="ogoh-ogh" />
<div class="header-title-wrapper">
<h2 class="header-supertitle">Festival Menakjubkan Di Bali</h2>
<h1 class="header-title">PARADE<br><span class="header-title-highlight">OGOH -</span><br><span class="header-title-highlight">OGOH </span></h1>
<p class="header-peek">
Ogoh-Ogoh adalah salah satu tradisi budaya yang sangat khas dan menarik di Bali, Indonesia. Parade ini tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam menyambut Tahun Baru Saka. Dalam parade ini, patung-patung besar akan di...
</p>
<a href="#main-content" class="button header-continuebutton"><img src="assets/icons/down_arr.svg">SELANJUTNYA</a>
</div>
<div class="header-line"></div>
<section class="header-ex">
<p class="header-publish">Published by <b>I Wayan Widhydana Sadhu Gunawan</b>, All rights reserverd.</p>
<p class="header-info"><b>10</b> min read • <b>4</b> days ago</p>
</section>
</div>
</header>
<main>
<div id="header-main-fade"></div>
<div id="main-content">
<article id="deskripsi-singkat">
<h1>DESKRIPSI<br>SINGKAT</h1>
<p>
 Ogoh-Ogoh adalah salah satu tradisi budaya yang sangat khas dan menarik di Bali, Indonesia. Parade Ogoh-Ogoh adalah tradisi Bali yang dilaksanakan menjelang Hari Nyepi.
<br> Ogoh-Ogoh adalah patung besar yang terbuat dari bahan ringan, menggambarkan makhluk mitologi yang dipercayai oleh agama Hindu, seperti Bhuta Kala. Parade ini diadakan dengan tujuan untuk menetralisir kekuatan jahat dan menjaga keharmonisan alam semesta.
<br> Patung-patung Ogoh-Ogoh biasanya dibuat di banjar yang akan kemudian dibawa berkeliling dengan diiringi musik gamelan dan terkadang tarian.
</p>
<div class="separator"></div>
</article>
<article id="sejarah">
<h1>SEJARAH</h1>
<p>
 Dilansir dari <cite><a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Ogoh-ogoh" target="_blank">wikipedia</a></cite>, Tradisi ogoh-ogoh seperti yang dikenal sekarang ini merupakan kebudayaan yang relatif baru. Diperkirakan bahwa tradisi ini berkembang pada dasawarsa 1980-an, meskipun pada tahun-tahun sebelumnya ogoh-ogoh sudah ada, tetapi masih dalam bentuk yang sangat sederhana dan belum dikenal secara luas.
<br> Tradisi lelakut, patung pelebonan, hingga Barong Landung ditengarai sebagai akar tradisi dan inspirasi bagi perkembangan awal ogoh-ogoh. Saat ini, ogoh-ogoh menjadi ciri khas penyambutan Nyepi dan dilombakan hampir setiap tahun di Bali dalam tingkat yang berbeda-beda.
<br> Cikal bakal ogoh-ogoh berasal dari tradisi yang dilakukan oleh beberapa <dfn>Banjar</dfn>. Bentuk awal ogoh-ogoh ialah berupa boneka jerami (<dfn>lelakut</dfn>) dan dipajang di perempatan desa. Setelah rangkaian ritual <em>Pengrupukan</em> usai, boneka tersebut akhirnya dibakar. Pada tahun 1970-an di Denpasar Timur, sekelompok pemuda banjar pertama kali mengarak lelakut saat menjelang Nyepi, Mereka menyebutnya <em>ogoh-ogoh</em> karena digoyang-goyangkan saat diarak keliling desa dan inilah yang menginspirasi berbagai banjar lain untuk melakukan hal yang sama.
<br> Semenjak Presiden Soeharto menetapkan Nyepi sebagai hari libur nasional <cite><a href="https://peraturan.bpk.go.id/Details/65482/keppres-no-3-tahun-1983">(Keputusan Presiden No. 3 tahun 1983)</a></cite>, Gubernur Bali <em>Ida Bagus Mantra</em> mengimbau masyarakat untuk memeriahkan penyambutan Nyepi dengan membuat dan mengarak ogoh-ogoh sesaat ritual Pengrupukan menjelang gelap. Di dasawarsa 1980-an, tradisi pengarakan ogoh-ogoh semakin berkembang pesat di sejumlah tempat yang kemudian mendapat perhatian pemerintah dengan diselenggarakannya lomba ogoh-ogoh tingkat kecamatan. Diikuti dengan membuminya ogoh-ogoh di Bali sesaat dilombakan pada Pesta Kesenian Bali tahun 1990.
</p>
<section id="asal-usul">
<h1>ASAL-USUL</h1>
<figure>
<img src="assets/photo0.jpg" alt="fotografi ogoh-ogoh di sore hari">
<figcaption>fotografi ogoh-ogoh di sore hari, sumber : tirto.id</figcaption>
</figure>
<p>
 Secara etimologi, kata <strong>Ogoh-ogoh</strong> berasal dan berakar dari <em>bahasa Bali</em>, yaitu kata ogah yang artinya "goyang" (ngogah artinya "menggoyang"). Reduplikasi ogah-ogah, atau dalam artian bali, diubah menjadi bentuk <dfn>kruna Dwi Maya Lingga</dfn> artinya "digoyang-goyangkan".
<br> Soalnya sangat berkaitan dengan cara pengarakan ogoh-ogoh pada umumnya, yaitu dengan cara digoyang-goyangkan agar terlihat seolah-olah bergerak dan <i>menari</i>. Sedikit <i>fun-fact</i>, Kata "ogoh-ogoh" ini termasuk kosakata asli Bali yang relatif baru dan tidak ditemukan definisinya dalam kamus bahasa Bali yang disusun sebelum 1980. Namun pada kamus bahasa Bali terbitan tahun 1991, kata "ogoh-ogoh" telah didefinisikan, sebagai patung yang dibuat dari bambu atau kertas, menyimbolkan <dfn>raksasa</dfn>.
</p>
</section>
<div class="separator"></div>
</article>
<article id="penyelenggaraan">
<h1>PENYELENG-<br>GARAAN</h1>
<p>
 Pada umumnya, ogoh-ogoh dibuat oleh komunitas tradisional orang Bali, disebut <dfn>Banjar</dfn>, terutama <i>Sekaa Teruna-Teruni (STT)</i>, yaitu divisi dalam suatu banjar yang menaungi kegiatan pemuda-pemudi di banjar tersebut. Kreativitas yang dicurahkan serta dana yang digelontorkan membuat ogoh-ogoh sering menjadi kebanggaan tiap kelompok pemuda-pemudi di Bali sesaat menyambut Nyepi.
</p>
<section id="tujuan">
<h1>TUJUAN</h1>
<figure>
<img src="assets/photo1.jpg" alt="fotografi ogoh-ogoh di dalam perlindungan dari terik matahari">
<figcaption>ogoh-ogoh di dalam perlindungan dari terik matahari, sumber : balipost.com</figcaption>
</figure>
<p>
 Ogoh-ogoh dibuat sebagai simbol keburukan atau kejahatan yang akan diarak dan dibakar menjelang Hari Raya Nyepi <i>(Tahun Baru Saka)</i>. Ini merupakan tradisi memeriahkan ritual <dfn>Tawur Kesanga</dfn>, salah satu prosesi menyambut Nyepi. Namun, tradisi ogoh-ogoh bukan merupakan suatu kewajiban dalam menyambut Nyepi, melainkan suatu pemeriah ritual.
<br> Ogoh-ogoh menampilkan bentuk yang menakutkan, mencirikan sifat-sifat negatif (kekerasan, angkara murka, kejahatan), atau adharma (keburukan, kebatilan) yang akan dibakar dalam arti; dimusnahkan. <em>Bhuta Kala</em> merupakan bentuk ogoh-ogoh yang umum, biasa diwujudkan sebagai sosok yang besar (wujud raksasa). Pembakaran ogoh-ogoh pada akhir ritual Tawur Kesanga bermakna <quote>membakar yang jahat</quote>
</p>
</section>
<section id="pembuatan">
<h1>PEMBUATAN</h1>
<figure>
<img src="assets/photo2.jpg" alt="fotografi penampilan ogoh-ogoh di tengah kabut">
<figcaption>penampilan ogoh-ogoh di tengah kabut, sumber : jatengnetwork.com</figcaption>
</figure>
<p>
 Bahan dasar ogoh-ogoh ialah bambu atau rotan yang dijalin membentuk kerangka sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Banyak pula ogoh-ogoh yang dibentuk pada suatu rangkaian besi sebagai tulang yang menopang, mempermudah, dan memperkuat konstruksi ogoh-ogoh. Bentuk dari jalinan bambu rotan tersebut dilapisi dengan kertas dalam beberapa tahap, sampai mencapai ketebalan maupun tekstur yang diharapkan. Proses berikutnya ialah pelapisan dengan bahan bertentu, lalu pewarnaan dengan cat. Beberapa ogoh-ogoh bahkan ditambah bulu-bulu, serat, kain, perhiasan, dan bahan aksesoris lainnnya, sesuai kreativitas.
<br> Ada pula ogoh-ogoh yang berbahan dasar <dfn>stirofoam</dfn> atau gabus <i>(produk busa sintetis dari polistirena)</i>. Populeritas bahan stirofoam dalam pembuatan ogoh-ogoh meningkat di Denpasar sejak 2011, karena bahan tersebut mudah dibentuk. Namun ogoh-ogoh harus dibakar, dan asap yang ditimbulkan dari pembakaran stirofoam lebih berbahaya untuk dihirup dibandingkan bahan yang lebih alami. Oleh karena itu sejak 2015, pemerintah daerah Bali meregulasi larangan pembuatan ogoh-ogoh berbahan stirofoam. Usai pandemi Covid-19, pemanfaatan bahan organik (seperti daun dan kulit pohon) sebagai bahan dasar menjadi sebuah tren di sebagian besar komunitas pemuda Bali.
<br><br> Lamanya proses pengerjaan suatu ogoh-ogoh bergantung kepada desain, tingkat kerumitannya, serta tenaga kerja pembangunan. Ada yang berkisar antara 1 minggu hingga 1 bulan (bahkan ada yang mencapai 5 bulan). Tidak hanya itu, Tinggi ogoh-ogoh juga bervariasi, mulai dari ogoh-ogoh mini yang tingginya kurang dari 1 meter (dipajang di toko-toko menjelang Nyepi) hingga ogoh-ogoh buatan banjar yang dapat mencapai 8 meter.
<br>Sementara itu, beberapa lomba mensyaratkan tinggi maksimal ogoh-ogoh yaitu 6 meter. Berat rata-rata ogoh-ogoh juga tergantung kepada tinggi dan konstruksinya, antara 100kg hingga 1 ton. </p>
</section>
<div class="separator"></div>
</article>
<article id="nilai-moral">
<h1>NILAI MORAL</h1>
<p>
 Tibalah kita di akhir artikel, sebelum itu ada beberapa pembelajaran yang dapat dipetik dari tradisi parade Ogoh-ogoh ini.
<br>Tradisi Pembuatan Ogoh-ogoh mengajarkan kita mengenai pentingnya kerjasama yang melibat berbagai kaum di dalam masyarakat maupun di dalam suatu komunitas. Pembuatan Ogoh-Ogoh tidak hanya menerapkan nilai kerjasama namun juga membutuhkan suatu kreativitas dari orang-orang yang terlibat dalam pembuatannya, mengajarkan betapa pentingnya berkreasi dalam melestarikan budaya.
<br> Ogoh-ogoh menyimbolkan keterpurukan dan sifat jahat di dalam manusia yang berpotensi menghancur keharmonisan alam semesta, <dfn>Bhuana Agung</dfn> dan antar sesama manusia, <dfn>Bhuana Alit</dfn>—yang kemudian dibakar, menyimbolkan pembersihan, penyucian, dan pembebasan dari hal-hal tersebut—Mengajari masyarakat untuk selalu menghindari sifat negatif di dalam mereka agar terjaganya keharmonisan semesta.
<br><br>Itulah yang dapat saya katakan pada tradisi parade Ogoh-Ogoh, semoga bermanfaat.
</p>
<div class="separator"></div>
</article>
<article id="referensi">
<h1>REFERENSI</h1>
<p>
1. <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Ogoh-ogoh" target="_blank">Ogoh-Ogoh</a>, Wikipedia Bahasa Indonesia <i>(Diakses tanggal 21–23 Januari)</i>
</p>
</article>
</div>
<aside>
<div id="aside-mode-switcher">
<button class="button button-active" onClick="handleAsideSwitch(ASIDE_STATES.TOC)">DAFTAR ISI</button>
<button class="button" onClick="handleAsideSwitch(ASIDE_STATES.PROFILE)">PROFIL KREATOR</button>
</div>
<div id="aside-content">
<figure class="toc-figure">
<img src="assets/photo0.jpg" alt="ogoh-ogoh">
<div class="overlay"></div>
<figcaption>sumber : infinitymountainbiking.com</figcaption>
</figure>
<h1 class="toc-title">DAFTAR ISI</h1>
<ul class="toc-list">
<li><a href="#deskripsi-singkat">Deskripsi singkat</a></li>
<li><a href="#sejarah">Sejarah</a></li>
<li class="list-item-inset"><a href="#asal-usul">Asal Usul</li></a>
<li><a href="#penyelenggaraan">Penyelenggaraan</a></li>
<li class="list-item-inset"><a href="#tujuan">Tujuan</li></a>
<li class="list-item-inset"><a href="#pembuatan">Pembuatan</li></a>
<li><a href="#nilai-moral">Nilai Moral</a></li>
<li><a href="#referensi">Referensi</a></li>
</ul>
<a class="home" href="#"><img src="assets/icons/home.svg" alt="home button"></a>
<div class="aside-content-overlay"></div>
</div>
</aside>
</main>
<footer>
<div id="footer-content">
<h1 class="footer-dicoding">DICODING<br>ACADEMY</h1>
<section class="footer-sharing">
<p>Share this Article</p>
<div id="footer-social-sharing">
<a href="https://www.x.com" target="_blank"><img src="assets/icons/social_x.svg" alt="share to x" /></a>
<a href="https://www.instagram.com" target="_blank"><img src="assets/icons/social_insta.svg" alt="share to instagram" /></a>
<a href="https://www.facebook.com" target="_blank"><img src="assets/icons/social_fb.svg" alt="share to facebook" /></a>
<a href="https://www.threads.net" target="_blank"><img src="assets/icons/social_thrd.svg" alt="share to thread" /></a>
<a href="https://www.reddit.com" target="_blank"><img src="assets/icons/social_rddi.svg" alt="share to reddit" /></a>
</div>
</section>
</div>
<div id="footer-rights">
<div class="header-line"></div>
<p>Belajar Dasar Pemrograman Web © 2019, Dicoding Academy</p>
</div>
</footer>
</body>
<!-- THIS PROJECT IS ORIGINALLY MADE BY I WAYAN WIDHYADANA SADHU GUNAWAN / widhyadana2008@gmail.com -->
</html>